Tentang kebaikan: Relativitas

Feb 13,2018
Seharusnya judul yang cocok untuk artikel ini adalah: "The One who I Hate"


Dari sekian banyak jenis-golongan manusia di permukaan tanah, saya selalu menaruh prihatin sekaligus "jembek" dengan satu jenis manusia yang sukanya membandingkan kebaikan-kebaikan yang dilakukan orang.
  • "La lapo kok sedekah ning Tukang Parkir alfamidi? Sedekah iku ning anak yatim"
  • "Eh ngapain galang donasi buat palestina, suku asmat di papua lagi susah woy"
  • "Timbang duitmu mbog silihne si A mending gae bayar kas. Lawong si A lo wingi bidikmisine cair"

I may sound rudeless, but let me tell u something.
Kebaikan itu relatif.

Maknanya relatif.
Caranya relatif.
Hasilnya relatif.
Nabi muhammad SAW sendiri menunjukkan bahwa kebaikan tidak hanya melalui satu jalan. Pada masanya ada banyak cara melakukan kebaikan. Seperti:
  • Ada yg harus berperang demi dakwah
  • Ada yg dianjurkan memerdekakan budak
  • Ada yg diminta menjaga ibunya yg sakit
  • Ada pula yg hanya disuruh fokus menahan amarahnya



Saya rasa dimasa modern ini juga nggak bakal jauh beda kok, bro. Kebaikan bisa dilakukan dgn berbagai cara, karena nantinya juga kita sama-sama masuk surga dgn berbagai cara.
Kecuali kamu yang suka membandingkan kebaikan-kebaikan di sekitarmu, eh gatau ya nanti siapa tau masuk surga lewat jalur mandiri. Hehe